nav-left cat-right
cat-right
pictures to animation
convert pictures to animation here

Upaya Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan Siswa di dalam Pendidikan Akidah Melalui Metode Kisah (Cerita)

Upaya Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan Siswa di dalam Pendidikan Akidah Melalui Metode Kisah (Cerita)

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada Pembelajaran ………………………………………di Kelas 4, Sekolah Dasar Negeri 2 di Desa/Kecamatan Cijulang,Kabupaten Ciamis Selatan

 Disusun untuk Memenuhi TugasMata Kuliah

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Dosen: Sobirin, S.Pd., M.Pd.

Oleh

ITA ROSITA

NIM. 0725.143

 

 

PROGRAM S1 PGSD/MI FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM LATIFAH MUBAROKIYAH (IAILM)

SURYALAYA – TASIKMALAYA

2013

 

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

DAFTAR ISI

 

BAB IPENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah

B.            Perumusan Masalah

C.            Tujuan Penelitian

1.             Untuk mengetahui efektivitas penerapan metode kisah

2.             Untuk mengetahui proses pembelajaran dalam meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan Siswa  kelas………..

D.           Manfaat Penelitian

1.             Manfaat bagi Pendidik

2.             Manfaat bagi Peserta Didik

3.             Manfaat bagi Sekolah

BAB IIKAJIAN PUSTAKA

A.           Konsep Dasar Pendidikan Kisah

B.            Hubungan antara Manusia dan Allah SWT.

C.            Metode Kisah

D.           Teori Pendidikan dalam Proses Pendidikan Kisah

BAB IIIPROSEDUR PENELITIAN

A.           Metode Penelitian

B.            Lokasi dan Subjek Penelitian

C.            Instrumen Penelitian

D.           Teknik Analisis Data

E.            Pengujian Keabsahan Data

F.             Organisasi Penelitian

1.             Persiapan

2.             Pelaksanaan

 

DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN

 

Mengamati perilaku anak didik kita mulai dari tutur katanya, potongan rambutnya, sampai mode pakaiannya, banyak sekali yang meniru gaya para artis, penyanyi, pemusik dan selebritis yang sering tampil di layar televisi. Jargon-jargon (ungkapan) dan kata-kata plesetan para artis dan selebritis itu pun mereka tiru. Peniruan pun menjadi lucu karena aksen anak-anak di daerah berbeda dari tiruannya para artis selebritis di ibukota Jakarta.

Peniruan mereka terhadap tata rias dan busana dari para artis dan selebritis itu juga tidak pernah mempertimbangkan warna kulit dan potongan tubuh mereka, sehingga penampilan mereka hanya merupakan korban mode saja.

Ditinjau dari sudut pandang pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam (PAI), cara peniruan semacam itu tidak mendidik, lebih tegas lagi: tidak Islami karena peniruan di atas tidak satu pun yang mengindikasikan kepada amal ibadah. Sebab segala perkataan, perbuatan, penampilan dan hasil karya para artis dan selebritis itu tidak berpijak kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.

Akan tetapi pada kenyataannya, mereka justru lebih suka meniru para artis dan selebritis ibukota yang menjadikannya idola, daripada meniru Rasulullah dan para Sahabatnya Seolah-olah para anak didik kita tidak memiliki panutan dari orangtuanya di rumah atau suri tauladan para pendidiknya, terutama guru pendidikan agama Islam (PAI) di sekolah.

Di dalam kitab suci al-Qur’an dan hadits, serta di dalam kitab-kitab riwayat para nabi dan rasul, terdapat banyak perkataan, perbuatan dan keputusan yang difirmankan Allah SWT melalui para nabi dan rasul yang dapat dijadikan metode kisah. Demikian juga dengan kumpulan hadits shahih diriwayatkan Bukhari dan Muslim, terdapat ucapan, perbuatan dan keputusan yang dikemukakan oleh Rasulullah Saw yang dapat kita –sebagai guru—jadikan metode kisah di hadapan para peserta didik kita di sekolah.

 

A.    Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian Latar Belakang Masalah di atas tadi, maka permasalahan yang dapat kita kemukakan adalah : Bagaimana metode metode kisah dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa di kelas dalam pembelajaran di bidang akidah ?

A.          Latar Belakang Masalah

Pendidikan kisah, umumnya di lingkungan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cijulang, khususnya di kelas 4 SDN 2 Cijulang, Ciamis Selatan, dapat dikatakan memprihatinkan. Keprihatinan penulis timbul karena perilaku siswa sehari-hari di sekolah kurang mencerminkan adanya keyakinan terhadap kisah.

Misalnya pada saat menjelang shalat dzuhur, masih banyak siswa bermain di luar lingkungan mesjid. Begitu juga ketika shalat sedang berlangsung, kurang tampak ketertiban karena masih banyak siswa yang bermain atau bergurau sambil shalat. Bahkan ada siswa yang malas melaksanakan shalat sehingga harus selalu diingatkan atau bahkan ditegur.

Padahal, sebagaimana kita ketahui, shalat lima waktu itu hukumnya fardlu atau wajib sehingga tidak boleh ditinggalkan sekalipun kita sedang sakit. Shalat juga merupakan alat kaum muslimin untuk berkomunikasi dengan Allah SWT sehingga kita harus bersungguh-sungguh dalam melaksanakan shalat.

Artinya:

Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk. (Q.S, Al-Baqarah, 2: 238)

 Sikap sehari-hari para siswa juga masih diwarnai keyakinan yang bertolak belakang dengan meng-Esa-kan Allah. Keyakinan mereka masih dipengaruhi oleh kepercayaan pada takhayul, bid’ah dan khurafat yang menyesatkan. Misalnya jika sedang bermain di halaman sekolah, kebetulan ada kapal terbang melintasi langit di atas sekolah, beberapa siswa berteriak-teriak diikuti siswa-siswi lainnya untuk “minta uang” kepada pilot pesawat udara itu.

Sampai saat ini penulis masih mendengar siswa yang mengatakan:

a.             Jika kendaraan kita menggilas kucing hingga mati, maka kita harus menghitung bulu kucing itu,

b.            Jika air kencing kita bercampur dengan air kencing teman, maka kita harus meludahinya supaya tidak bercampur darah,

c.             Jika kepala kita bersenggolan dengan kepala teman, harus disentuhkan kembali supaya ibu kita tidak meninggal,

d.            Jika kita digigit toke, gigitannya tidak akan lepas sebelum ada bunyi bedug di mesjid,

e.             Jika bepergian malam hari kita harus mengantongi bawang putih supaya tidak diganggu hantu di perjalanan,

f.             Jika tidur jangan terlentang supaya tidak dilangkahi setan,

Dan ungkapan-ungkapan sejenisnya yang sebetulnya sedikit demi sedikit akan menggerogoti aqidah dan keyakinan para siswa terhadap Tauhid atau ke-Esa-an Allah SWT. 

 

B.     Perumusan Masalah

Menyoroti masih banyaknya gejala takhayul, bid’ah dan khurafat di antara  para siswa diperkirakan karena akibat pengaruh intern dan ekstern keluarganya. Pengaruh intern adalah dari lingkungan keluarganya, terutama dari kedua orang tuanya yang secara turun temurun masih mengakui dan melaksanakan kegiatan tahayul, bid’ah dan khurafat. Sehingga ada kemungkinan anak-anak mereka, yang nota bene adalah siswa-siswi kita, merasa “diberi angin” untuk melibatkan diri mereka di dalam kemusyrikan.  Misalnya, masih ada orang tua siswa yang yakin akan kekuatan Nyi Roro Kidul sebagai penyebab bencana air pasang Tsunami beberapa tahun lalu. Sehingga para orang tua siswa itu ada yang ikut serta dalam upacara “Hajat Laut” di pesisir Pantai Selatan.

Sedangkan secara ekstern, pengaruh takhayul, bid’ah dan khurafat itu datang dari luar rumah, terutama pengaruh yang paling menonjol adalah dari tayangan Film Televisi atau sinetron yang selalu menomor-wahidkan takhayul, bid’ah dan khurafat. Sinetron-sinetron sejenis itu selalu ditayangkan pada siang, sore dan petang, bertepatan dengan saat anak-anak seharusnya menyantap makan siang, bersiap-siap untuk pergi ke sekolah agama (madrasah diniyah), atau belajar di rumah. Artinya, jam tayang sinetron itu lebih sering menghambat pendidikan otak dan akidah siswa ke arah positif dan tauhid.

Gejala ini sangat memprihatinkan para pegiat dunia pendidikan, terutama para pendidik dalam ruang lingkup agama Islam. Akan tetapi hanya keprihatinan yang bisa dikeluhkan para pendidik, karena sepanjang rezim pemerintahan orde lama, orde baru dan orde reformasi ini “proyek pemurtadan” terhadap ummat Islam terus terjadi.

Pemerintah, terutama Menteri Pendidikan, Menteri Agama dan Majelis Ulama Indonesia tampak tidak berdaya menghadapi maraknya tayangan sinetron yang menjungkir-balikkan akidah, akidah dan syariat ummat Islam itu.

Oleh karena itu untuk menegakkan kisah di kalangan para peserta didik, maka keputusan dan kebijaksanaan harus berada di tangan para pendidik, terutama para guru bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk kreatif menciptakan tata cara atau metoda pembelajaran PAI khususnya metoda kisah Qur’ani yang dapat mengembalikan minat dan perhatian siswa pada pendidikan kisah.

Kreativitas adalah kemampuan menciptakan suatu kreasi baru dan sesuai dengan tugas yang dihadapi. Dalam kreativitas terdapat kemampuan menampilkan alternatif pilihan dari kreasi yang sudah ada. Oleh karena itu guru kreatif adalah pendidik yang memiliki kebebasan berfikir dan bertindak (Pupuh Fathurrohman, 2007: 138).

Kreativitas para guru bidang PAI selayaknya harus lebih menarik, memukau  dan sangat mengesankan para siswa di kelas daripada tayangan takhayul, bid’ah dan khurafat dalam sinetron-sinetron itu. Sumber kreativitas para guru bidang PAI dapat diambil dari buku cerita lengkap atau ringkasan “Kisah 25 Nabi dan Rasul” yang banyak dijual di setiap toko buku.

Dengan kreativitas guru bidang PAI, maka diharapkan metode kisah al-Anbiya tersebut dapat mengembalikan kesadaran kisah siswa bahwa:

a.                   Seluruh nabi dan rasul utusan Allah selalu menyampaikan dan menyebar-luaskan pendidikan kisah dan memberantas takhayul, bid’ah, khurafat dan kemusyrikan kepada seluruh ummat manusia di seluruh dunia,

b.                  Allah tidak menciptakan “kesaktian” kepada manusia, kecuali kepada para Nabi dan Rasul, yaitu manusia pilihan Allah, berupa berbagai mukjizat,

c.                   Manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna dan mulia jika dibandingkan dengan malaikat sekalipun. Oleh karena itu tidak akan pernah ada manusia  yang bisa berubah menjadi hewan atau mahluk lainnya,

d.                  Allah tidak akan pernah mengubah fitrah manusia sebagai mahluk mulia dan sempurna di dunia ini. Tidak pernah ada manusia (atau nabi) yang bisa  “menghilang” karena manusia (atau nabi) bukan jin atau iblis.

e.                   Allah SWT mengharamkan ummat Islam menggeluti ilmu sihir karena sihir dilakukan berdasarkan kerjasama dengan iblis dan iblis adalah mahluk terkutuk.

f.                   Dan tema-tema lainnya yang relevan.     

 

C.          Tujuan Penelitian

1.            Untuk mengetahui efektivitas penerapan metode kisah al-Anbiya atau Kisah 25 Nabi dan Rasul dalam rangka meningkatkan kesadaran kisah para siswa kelas 4 di SDN 2 Cijulang.

2.            Untuk mengetahui proses belajar mengajar dalam meningkatkan minat belajar PAI dan pemahaman siswa kelas 4 di SDN 2 Cijulang di bidang kisah.  

 

 

 

D.          Manfaat Penelitian

a.             Manfaat bagi Pendidik

Meningkatkan daya kreatif (minat, bakat dan keterampilan) pendidik dalam mengembangkan kisah 25 nabi dan rasul di dalam koridor (batasan) kisah.

b.            Manfaat bagi Peserta Didik

Mengembalikan kesadaran para peserta didik untuk memurnikan kembali ajaran kisah, dan menghilangkan kepercayaan para siswa dari ajaran yang sesat serta menyesatkan. 

c.             Manfaat bagi Sekolah

Sekolah menjadi lingkungan pendidikan berbasis kisah dan bersih dari program pembodohan, penggelapan dan pemurtadan terhadap para peserta didik.

Sayidina Ali ra. pernah bersabda:

“Kehormatan manusia adalah pengetahuannya. Orang-orang bijak adalah suluh yang menerangi jalan setapak kebenaran. Di dalam pengetahuan ada terletak kesempatan manusia untuk keabadian. Sementara manusia bisa mati, kebijakan dapat hidup abadi.”


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.          Pengertian Aqidah

Aqidah berasal dari bahasa Arab “aqadayang mengandung arti ikatan dua utas tali dalam satu simpul sehingga tersambung. Aqad berarti janji, ikatan (kesepakatan) antara dua orang yang mengadakan perjanjian. Aqidah menurut terminologi adalah sesuatu yang mengharuskan hati membenarkannya, membuat jiwa tenang, dan menjadi kepercayaan yang bersih dari kebimbangan dan keraguan.

Aqidah Islam dalam al-Qur’an disebut iman. Bukan hanya berarti percaya, melainkan juga keyakinan yang mendorong seorang muslim untuk berperilaku. Oleh karena itu wilayah iman sangat luas bahkan mencakup segala perilaku seorang muslim yang disebut amal saleh. 

Aqidah Islam atau iman mengikat seorang muslim sehingga terikat dengan segala aturan hukum Islam. Menjadi seorang muslim, berarti meyakini dan melaksanakan segala perbuatan sesuai ajaran Islam. (Toto Suryana, 1997: 94)

B.           Metode Kisah (Cerita)

Kata “kisah” berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata “qishah” yang berarti cerita. Kisah dalam bahasa al-Quran bermakna sejarah (tarikh) yaitu peristiwa yang pernah terjadi zaman dahulu. Secara etimologis kata “qishah” berasal dari kata “al-Qashshu” yang artinya mencari jejak.

Secara terminologis, kata “qishah” al-Quran mengandung dua makna yaitu, pertama: “al-Qashash fi al-Quran” yang artinya pemberitaan al-Quran tentang hal ihwal ummat terdahulu, baik informasi tentang kenabian maupun peristiwa yang terjadi pada umat terdahulu. Kedua: “Qashash al-Quran” artinya karakteristik kisah yang terdapat dalam al-Quran. Pengertian yang kedua (Qasash al-Quran) inilah yang dimaksud kisah sebagai metode pendidikan. (Syahidin,2005: 129)

Cerita merupakan metode pendidikan keimanan yang banyak ditemukan di dalam al-Qur’an baik sebagai kisah bersejarah atau peristiwa penting yang pernah terjadi di zaman para nabi dan rasul yang sisa dan peninggalannya masih dapat ditemukan di jazirah Arab atau benua Afrika sampai sekarang. Film dokumenter “Jejak Para Rasul” baik yang diproduksi oleh Radio Televisyen Malaysia (RTM) atau pun produksi the Discovery Chanel, merupakan bukti bahwa kisah para nabi dan rasul di dalam al-Qur’an itu adalah nyata.

Penyampaian ajaran Islam melalui kisah dalam al-Qur’an cukup dominan sehingga kata “kisah”  diabadikan dalam sebuah surat al-Qashash (kisah-kisah). Selain sebagai materi pendidikan, kisah dapat dijadikan satu metode Pendidikan Agama Islam dalam mengajarkan nilai-nilai keimanan.

Kisah di dalam al-Qur’an merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi pada manusia terdahulu dan merupakan peristiwa sejarah yang dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah melaui peninggalan manusia terdahulu.  

Kisah-kisah bersejarah itu telah diabadikan Allah SWT ke dalam nama surat dan isi ayat suci al-Qur’an. Cerita yang dipaparkan  di dalam Qur’an itu berkaitan dengan:

a.     Pribadi dan keteladanan 25 Nabi dan Rasul (dari Nabi Adam,  Khidir, Luqman, Zulqarnain sampai Rasulullah Saw.); 

b.    Suatu kelompok (Keluarga Imran, beberapa pemuda Kahfi, saudara-saudara Yusuf as, sejumlah malaikat yang diperintah Allah menghancurkan kaum Sodom dan Gomorah; sekelompok Jin yang menjadi pembantu Nabi Sulaiman);

c.     Masyarakat/ bangsa (kaum Tsamud, Aad, Sodom dan Gomorah; Saba’, bani Israil Mesir, Ruum/Romawi, dan Quraish).

d.    Pribadi para sahabat Rasulullah Saw. (Abu Bakar, Umar bin Khatab, Ustman, Ali, Shalman al-Farizy, Bilal bin Rabah, dan lain-lain).

Di dalam al-Qur’an juga terdapat nama surat dan isi ayat yang bertemakan  tentang berbagai hewan yang menjadi lambang atau perumpamaan dari Allah agar manusia berfikir. Allah SWT berfirman (Q.S. Yusuf, 12: 111):

 

 

 

 

Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

 Nama hewan itu misalnya Al-Baqarah (sapi betina); Al-An’aam (hewan ternak); An-Nahl (lebah); An-Naml (semut); Al-Ankabuut (laba-laba); Al-Aadiyaat (kuda perang); dan Al-Fiil (Gajah) dan nama-nama lain selain manusia.   

Seluruh kisah para nabi dan rasul yang bersumber dari al-Qur’an itu sudah pernah dihimpun ke dalam buku “Kisah 25 Nabi dan Rasul” dan kisah berbagai mukjizatnya. Sehingga pada dasarnya cukup tepat untuk dijadikan bahan dasar pendidikan kisah dengan “Metode Kisah” karena seluruh nabi dan rasul adalah penyebar, dan penegak kisah kepada seluruh ummat manusia.

Allah SWT. Berfirman:

 

 

 

Artinya: Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): “Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?. (Q.S. Al-Mukminuun, 23: 32)

 

 

Artinya: Sesungguhnya (agama kisah) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. (Q.S. Al-Mukminuun, 23: 52)

Teori Pendidikan dalam Proses Pendidikan Kisah yaitu:

1.            Teori Pendidikan menurut Islam

Istilah pendidikan dalam perspektif Islam dapat diderivasi (ditinjau) dari dua istilah sentral yang secara tekstual dan historis digunakan sampai sekarang, yaitu tarbiyah dan ta’dib. Kedua istilah ini mempunyai perbedaan cukup mendasar.

Menurut Naquib Al-Atas, tarbiyah secara semantik berarti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membuat, membesarkan, memproduksi hasil yang sudah matang, dan menjinakan, tetapi tidak khusus ditujukan kepada manusia. Tarbiyah dalam pengertian ini berlaku juga untuk spesies lain, seperti mineral, tanaman, dan hewan.

Ta’dib mengacu pada pengertian (‘ilm), pengajaran (ta’lim), dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Oleh karena itu, ta’dib dianggap sebagai istilah yang paling tepat dan cermat untuk menunjukkan pendidikan dalam Islam. Dari sini dapat dipahami bahwa Naquib melihat ta’dib sebagai sebuah sistem Islam yang di dalamnya terdapat tiga sub sistem: pengetahuan, pengajaran, dan pengasuhan (tarbiyah). Jadi, tarbiyah masuk ke dalam bagian atau sub sistem dari ta’dib. (Sembodo Ardi Widodo, 2007: 171)

Melalui pendekatan tekstual dan historis, kedua istilah yang dipakai untuk maksud pendidikan Islam itu dapat dijabarkan lebih mengakar lagi. Sedangkan pada masa klasik, istilah ta’dib hanya dikenal sebagai pendidikan saja, seperti sabda Rasulullah: “Tuhanku telah mendidikku (addabani) sehingga perangaiku menjadi sangat baik.” (H.R. Ibnu Al-Ma’ani).

2.            Teori Pendidikan menurut al-Qur’an

Di dalam literatur kependidikan Islam, kata pendidikan dipresentasikan melalui dua suku kata, yaitu tarbiyah dari kata kerja rabbi, dan kata ta’dib dari kata kerja adiba. Pemeliharaan dan pendidikan adalah pengertian yang terkandung dalam kata rabbi. Allah sebagai pendidik dikenal dan dibutuhkan makhluk yang dididiknya, karena Dia adalah Maha Pencipta. Selain itu ciptaan-Nya tidak terbatas pada kelompok tertentu, tetapi pada seluruh makhluk. Itulah sebabnya Dia dilukiskan sebagai Rabbul alamin. (Abuddin Nata, 1993: 208).

Kata rabbi dalam al Qur’an diulang 169 kali dan dihubungkan dengan objek yang begitu banyak. Di antaranya:

 

 

Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.(Q.S. Al Israa’, 17: 24)

Kata rabbi juga sering dikaitkan dengan sesuatu selain Tuhan. Pengaitan ini diulang sebanyak 30 kali, seperti pada Q.S. al-A’raaf, 7: 61:

 

Artinya: “Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”.

a.   Kata rabb dikaitkan pula dengan manusia:

 

 

Artinya: “(yaitu) Rabb (Tuhan) Musa dan Harun” (Q.S. Al A’raaf, 7: 122).

 

b.   Dengan benda atau lahan di ruang angkasa:

 

 

 

Artinya: “Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung”.  (Q.S. at-Taubah, 9: 129)

Dengan benda atau lahan di bumi:

 

 

 

 

 

Artinya: Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (Q.S. Ar-Ra’d, 13: 16)

c.       Dengan arah Timur dan Barat:

 

Artinya: Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal”. Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal”. (Q.S. Asy-Syu’ara, 26: 28).

d.      Dengan kelompok manusia:

Artinya: Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. (Q.S. Al-Falaq, 113: 1).

 

 

Artinya: Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia (Q.S. An-Naas, 114: 1)

 

Artinya: “Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang” (Q.S. Al-Insaan, 76: 25).

Dari contoh di atas, kata rabbi berarti pemelihara, dan pemeliharaan mencakup semua ciptaan Allah SWT. Oleh karena itu pemeliharaan bisa berarti pendidikan dengan penuh kasih sayang agar yang dipelihara (peserta didik) dapat berkembang baik dan memberi manfaat bagi manusia dan alam, karena saling membutuhkan. (Armai Arief, 2007: 183).


BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

 

A.          Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini terdiri atas 3 (tiga) siklus yaitu:

1.                  Siklus Pertama:

§    Perencanaan (planning): menyusun rencana pembelajaran (RPP) kisah,

§    Pelaksanaan Tindakan (action): peneliti melaksanakan proses pembelajaran kisah,

§    Observasi (observation): peneliti melakukan observasi terhadap proses pembelajaran kisah,

§    Refleksi (reflection): mengevaluasi proses pembelajaran kisah yang telah dilakukan berdasarkan hasil observasi. kemudian menentukan perbaikan yang akan diterapkan pada siklus II.

2.                  Siklus Kedua:

§    Perencanaan (planning): merencanakan pembelajaran kisah dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebagai hasil refleksi siklus pertama,

§    Pelaksanaan Tindakan (action): peneliti melaksanakan proses pembelajaran,

§    Observasi (observation): peneliti mengobservasi proses pembelajaran kisah,

§    Refleksi (reflection): mengevaluasi proses pembelajaran kisah yang telah dilakukan.

 

     3.         Siklus Ketiga:

§    Perencanaan (planning): merencanakan pembelajaran kisah sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebagai hasil refleksi siklus kedua,

§    Pelaksanaan Tindakan (action): peneliti melakukan proses pembelajaran ,

§    Observasi (observation): peneliti melakukan observasi proses pembelajaran,

§    Refleksi (reflection): peneliti melakukan evaluasi proses pembelajaran berdasarkan hasil observasi siklus pertama dan kedua. Kemudian membuat kesimpulan.

 

B.           Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di kelas 4 Sekolah Dasar Negri (SDN) 2 Cijulang, Ciamis Selatan. Sedangkan subjek penelitiannya adalah proses pembelajaran kisah dengan metode Kisah Para Nabi.

 

C.          Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan tindakan adalah beberapa formulir isian observasi, lembar interview/wawancara, dan soal-soal evaluasi.

 

D.          Teknik Analisis Data

Analisis data untuk pengujian hipotesis bagi masing-masing  kegiatan dilakukan dengan membandingkan transkipsi setiap instrumen kegiatan. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif  dalam prosentase dan analisis data kuantitatif dengan menggunakan x dan Variansi.

Untuk mencari x dan variansi digunakan rumus:

 å (fi.Xi)

            X =

                          N

           

Keterangan:

            X         = rata-rata hitung

            N         = banyak sample

            Fi. Xi   = hasil perkalian skor dengan frekuensi skoryang bersangkutan

E.           Pengujian Keabsahan Data

Kriteria keberhasilan suatu tujuan ditentukan oleh:

§    Hasil evaluasi belajar siswa,

§    Analisis hasil observasi,

§    Analisis hasil wawancara, dan

§    Hasil triangulasi.

F.           Organisasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas dan efesiensi penggunaan metode Kisah Para nabi dalam pembelajaran kisah di kelas 4 SDN 2 Cijulang, Ciamis Selatan.

1.            Persiapan

a.             Permohonan ijin kepada Kepala Sekolah.

b.            Melaksanakan Observasi dan Interview (wawancara)

c.             Mengidentifikasi Permasalahan

d.            Menentukan judul kisah yang akan dibacakan sesuai materi pembelajaran kisah di kelas  4 SDN 2 Cijulang, Ciamis Selatan

e.             Melatih siswa membaca, meresapi dan mengambil hikmah dari kisah yang dibacanya

f.             Menyususn teknik pemantauan setiap tindakan dengan format observasi

2.            Pelaksanaan

 Pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) ini diselaraskan dengan rencana yang telah dipersiapkan. Pelaksanaan dalam setiap tindakan adalah berbentuk kegiatan belajar mengajar (KBM), evaluasi, dan refleksi.

a.                       Langkah Persiapan

§     Guru mempersiapkan pokok bahasan dan sub pokok bahasan dari mata pelajaran Kisah secara utuh,

§     Guru mengumpulkan penggalan-penggalan Kisah Qur’ani yang berhubungan dengan Kisah,

§     Guru menyusun tokoh-tokoh (Nabi, Rasul, Sahabat, dll.) dalam kisah tersebut untuk dihafalkan nama-namanya, dan wataknya,

§     Menyusun pertanyaan-pertanyaan.

b.            Langkah Pelaksanaan

§     Guru menyebutkan tema pokok pelajaran Kisah dan Kisah Qur’ani yang akan disajikan guna menarik perhatian dan konsentrasi siswa,

§     Kisah-kisah Qur’ani yang disajikan guru dibandingkan dengan pengalaman Kisah siswa dalam kehidupan,

§     Dalam penyampaian Kisah Qur’ani dapat menggunakan teknik drama atau sandiwara,

§     Materi pokok Kisah disampaikan pada saat puncak atau akhir Kisah Qur’ani yang sudah disampaikan.

c.          Langkah Evaluasi

§     Guru mengajukan beberapa pertanyaan pokok berkaitan dengan Kisah yang telah dipersiapkan,

§     Guru menanyakan tokoh dan watak dalam Kisah Qur’ani yang sudah diceritakan dan hubungannya dengan Kisah,

§     Guru menegaskan kembali inti dan pokok pelajaran Kisah,

§     Guru menugaskan kembali siswa untuk membaca Kisah Qur’ani secara lebih lengkap.

d.                  Langkah Refleksi

§    Hasil evaluasi dari penelitian siklus pertama dan kedua


DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, Abdurrahman Saleh. 2005. Cetakan ketiga. Penerjemah Prof. H.M. Arifin, M.Ed. dan Drs. Zainuddin. Teori-teori Pendidikan Berdasarkan al-Qur’an. Jakarta. PT Rineka Cipta.

 

Afzalurrahman. 2006. Indeks Al-Qur’an. penerjemah: Drs. Ahsin W. Al-Hafidz. Jakarta. Bumi Aksara.

 

Alhamid, Zaid Husein. Edisi Revisi. Cetakan I. 1995. Kisah 25 Nabi dan Rasul. Jakarta. Pustaka Amani.

 

A’la Maududi, Abul. 1986. Dasar-Dasar Iman. Bandung. Penerbit Pustaka.

Arief, Armai. 2007. Cetakan II. Reformulasi Pendidikan Islam. Jakarta. Ciputat Press Group.

 

Ash Shiddieqy, T.M. Hasbi. 1964. Al Islam. Jakarta. Bulan Bintang.

Asy Syarifain, Khadim al Haramain. 1990. Al Qur’an dan Terjemahnya. Kingdom of Saudi Arabiya (KSA). As-Syarif Medinah Al Munawarah.

 

Bahreisy, Hussein. 1999. Edisi Revisi. Hadits Shahih Bukhari. Surabaya. Al-Ikhlas.

 

Daulay, Haidar Putra. 2007. Cetakan 3. Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.

 

Fathurrohman, Pupuh dan Sobry Sutikno. 2007. Cetakan Kedua. Strategi Belajar Mengajar melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami. Bandung. PT Refika Aditama.

 

Nata, Abuddin. Edisi 1. Cetakan 1. 2003. Manajemen Pendidikan. Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta. Prenada Media.

 

Shihab, Quraish. 1996. Wawasan Al-Qur’an. Bandung. Mizan.

Syahidin. 2005. Cetakan Kesatu. Aplikasi Metode Pendidikan Qurani dalam Pembelajaran Agama di Sekolah. Pondok Pesantren Suryalaya. Tasikmalaya.

 

Widodo, Sembodo Ardi. 2007. Cetakan kedua. Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam. Jakarta. PT. Nimas Multima.

 

pictures to animation
convert pictures to animation here gif creators
picasion gif creators online" alt="468 ad" class="foursixeight" />