nav-left cat-right
cat-right
pictures to animation
convert pictures to animation here

Penjelasan Pembagian Zakat Fitrah

Zakat fitrah hukumnya wajib ‘aini artinya setiap orang dari mulai bayi yang lahir sebelum hari raya hingga orang dewasa yang mengalami hidup hingga hari raya wajib mengeluarkan zakat fitrah. Adapun pelaksanaan zakat fitrah pada awalnya diserahkan kepada yang berhak menerimanya pada malam hari raya Idul Fitri. Akan tetapi searah dengan upaya penertiban zakat fitrah, maka tercetuslah sebuah pemikiran bahwa zakat fitrah perlu ditata dan diorganisir agar dalam hal pengelolaan dan pendistribuasiannya dapat berjalan rapih. Dengan kata lain bahwa si penerima (mustahiq) tidak mendapat bagian yang saling tumpang tindih. Karena boleh jadi, misalanya apabila pelaksanaan zakat fitrah tidak diatur oleh panitia (amilin) maka pada saat prediksi masing-masing pembayar zakat (muzakki) dalam hal memandang seseorang termasuk kategori fakir-miskin, ternyata sama. Bisa jadi orang tersebut akan mendapat bagian paling banyak, sedangkan mustahiq yang lain tidak kebagian.Mengacu pada Al Qur’an surah at-Taubah ayat 60 bahwa mustahiq zakat itu terdiri dari 8 asnaf. Yakni :

  1. Fakir, golongan orang yang tuna harta dan tidak memiliki jalan usaha yang jelas.
  2. Miskin, golongan orang yang kurang mampu dan tidak berkecukupan.
  3. Amilin, panitia pengelola zakat.
  4. Mu’alaf, orang yang masih baru masuk Islam dan sedang dihibur dari derta tekanan jiwanya.
  5. Riqab, orang yang memerdekakan hamba sahaya.
  6. Gharim, orang yang berhutang di jalan Allah (misalnya hutang nazar, hutang kifarat, hutang diyat, dsb).
  7. Sabilillah, orang yang berjuang di jalan Allah (mujahidin), akan tetapi di zaman sekarang para pemuka agama (kiyai, ustadz, guru ngaji) dikategorikan pada asnaf ini.
  8. Ibnu Sabil, orang yang kehabisan perbekalan dalam perjalanan jauh.

Dalam hal pengelolaan harta yang dikumpulkan dari hasil penarikan zakat fitrah ini untuk memudahkan sistem pembagiannya, seluruh harta dinominalkan ke dalam bentuk persentase. Sehingga angka 100% dibagi 8 (asnaf), maka masing-masing asnaf mendapat bagian sebanyak 12,5%.

Contoh perhitungan :

Beras 1.500 kg, jika diuangkan x Rp 7.000,-/kg = Rp. 10.500.000,-

Pembagiannya sebagai berikut :

  1. Fakir, 12,5% x Rp. 10.500.000,- = Rp 1.260.000,-
  2. Miskin, 12,5% x Rp. 10.500.000,- = Rp 1.260.000,-
  3. Amilin, 12,5% x Rp. 10.500.000,- = Rp 1.260.000,-
  4. Mu’alaf, 12,5% x Rp. 10.500.000,- = Rp 1.260.000,-
  5. Riqab, 12,5% x Rp. 10.500.000,- = Rp 1.260.000,-
  6. Gharim, 12,5% x Rp. 10.500.000,- = Rp 1.260.000,-
  7. Sabilillah, 12,5% x Rp. 10.500.000,- = Rp 1.260.000,-
  8. Ibnu Sabil, 12,5% x Rp. 10.500.000,- = Rp 1.260.000,-

Apabila ada asnaf yang tidak ada maka sebaiknya bagian tersebut disimpan di baitul mal. Asnaf yang tidak selalu ada di antaranya : riqab, mu’alaf, gharim, dan ibnu sabil. Namun demikian, kenyataan di lapangan dikarenakan lembaga baitul mal itu tidak ada dan kenyataan bahwa jumlah fakir miskin sangat banyak, maka pos bagian zatah untuk empat asnaf tersebut diberikan kepada fakir miskin.

Dalam praktik pendistribusian harta zakat fitrah di lapangan sering kali terjadi mis-persepsi. Hal ini terjadi pada saat asnaf ‘amilin misalnya diisi oleh 5 personil, maka bagian mereka rata-rata di atas Rp 250.000,- Sedangkan jumlah fakir miskin misalnya sebanyak 200 orang. Kita perkirakan bagian fakir dan miskin sebesar @ Rp 1.260.000,- x 2 = Rp 2.520.000,- ditambah bagian 4 asnaf yang tidak ada @ Rp 1.260.000,- x 4 = Rp 5.040.000,- Maka jumlah harta yang dijatahkan kepada fakir miskin sebesar Rp 7.560.000,- dibagi 200 orang, maka masing-masing fakir miskin akan mendapat bagian sebesar Rp  37.800,-

Dalam hal ini jelas akan terjadi pandangan buruk terhadap perbedaan yang mencolok dari jatah bagian yang diterima oleh ‘amilin dibandingkan dengan jatah bagian fakir-miskin.

pictures to animation
convert pictures to animation here gif creators
picasion gif creators online" alt="468 ad" class="foursixeight" />